Herry Sinurat

Mungkin hanya sedikit pegawai negeri sipil yang bergelar doktor di lingkup Pemkot Surabaya. Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Herry Sinurat adalah salah satunya. Hobi membaca mengantarkannya meraih enam gelar dari dua disiplin ilmu yang berbeda.

DI meja kerja Herry Sinurat tak hanya terdapat tumpukan berkas proyek jalan dan jembatan di Surabaya. Sejumlah buku mengenai hukum dan teknik sipil berserakan di sana. Buku bertema dua disiplin ilmu itu juga terdapat di sebuah lemari kaca di ruang tersebut.

Masih di meja, ada tiga gadget dengan merk berbeda. Yakni iPad, BlackBerry Torch, dan Sony Erricson Experia. Gadget, bahi Herry, adalah sarana pengganti buku. Khususnya bila dia dalam perjalanan atau di luar kota dan tak memungkinkan membawa buku terlalu banyak. Dari tiga gadget itu, dia bisa membaca perkembangan zaman, mengunduh e-book, dan banyak belajar banyak hal.

“Saya baru mendapat gelar doktor Februari dan diwisuda 10 Maret lalu,” kata lelaki asal Pematang Siantar itu saat ditemui di ruang kerjanya Kamis lalu (16/3).

Sebelum meraih ijazah doktor dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, suami Reny Kusrini tersebut memegang lima ijazah lain. Perinciannya, D-3 Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (1987), S-1 Teknik Sipil Universitas Diponegoro (1996), S-2 Manajemen Proyek (2007), S-1 Ilmu Hukum Universitas Bhayangkara (2011), S-2 Ilmu Hukum Universitas Narotama (2006), dan S-3 Ilmu Hukum di Untag (2012).

“Saya memang menyeberang ke S-2 Ilmu Hukum dulu sebelum mengambil S-1-nya,” kata pria yang suka memelihara kumis ini. Hal itu, kata dia, sah-sah saja. Buktinya, Herry akhirnya meraih doctor.

Herry lantas menceritakan ujian terbuka untuk meraih gelar doktor yang dipimpin langsung oleh Rektor Untag Ida Aju Brahmasari. Sari, begitu rektor itu biasa disapa, mengutarakan kekagumannya kepada Herry. “Bu Rektor mengapresiasi. Dia juga sempat bilang kalau saya mirip dia yang suka belajar,” ujar ayahanda Bisma Raja Sinurat ini lantas tersenyum.

Dalam disertasi berjudul Prinsip-prinsip Hukum Public Private Partnership dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) di Indonesia, Herry Sinurat berpendapat bahwa pembangunan infrastruktur mampu menciptakan multiplier effect dalam menumbuhkan perekonomian Indonesia. Selain itu, menjadi persyaratan utama bagi masuknya investasi asing di Indonesia.

“Disertasi ini menggabungkan pengetahuan saya tentang tekni sipil dan hukum. Hukum tentang hubungan pihak-pihak dalam melakukan relasi saya singgung didalamnya,” papar pria yang pernah berdinas di Timor Leste itu. Dia juga masih sering terkenang betapa senangnya saat diwisuda 10 Maret lalu bersama sekitar 427 wisudawan Untag lainnya. Sebab, dia berhasil meraih indeks prestasi 3,9 alias cumlaude.

Dia menjelaskan, awalnya Herry tidak terpikir mencari gelar di bidang Hukum. Ketertarikannya muncul saat menjadi pemimpin proyek pembangunan jembatan MERR II-C di Kedung Baruk pada 2003.

Kebetulan, jembatan tersebut rusak sebelum rampung. Jadi, ada proses hukum yang mesti dilewati saat dia harus membangun kembali. Sejak saat itu dia ingin belajar tentang ilmu hukum. Alasannya, persoalan proyek kerap bersinggungan dengan masalah hukum. Misalnya, saat ada yang tidak beres dalam pelaksanaan atau perjanjian lelang.

Dengan mengetahui persoalan seperti itu, dia bisa memperkecil kemungkinan proyek gagal atau bermasalah di masa mendatang. “Ayah saya jaksa. Mungkin karena genetik dia juga saya jadi suka hukum,” urainya lantas tertawa.

Sebagai kasi di DPUBMP, dia tergolong PNS yang supersibuk mengurusi proyek infrastruktur. Apalagi, Herry masih tercatat sebagai dosen luar biasa program pascasarjana Teknik Sipil ITS.

Lantas, bagaimana cara Herry mengatur waktu? “Saya yakin, semua orang bisa memaksimalkan potensi yang ada. Saya mencoba melakukan itu. Diatur saja dengan baik,” ujarnya.

Keluarga, menurut Herry, memang pernah protes. Misalnya, saat dia sedang giat menempuh pendidikan di Untag dan Ubhara. Istri dan anaknya memang kerap mengeluh. Mereka bertanya-tanya, mengapa dia mesti kuliah terus. Apalagi, pekerjaan sebagai PNS dan dosen juga menyita banyak waktu bersama keluarga.

Herry sempat tidak enak hati ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Namun, dia memberikan pengertian kepada istri dan anaknya. Bahwa, belajar tidak mengenal usia. Toh, kuliah yang dia lakukan juga akan menjadi pembelajaran tersendiri, terutama bagi anaknya. Dengan demikian, anak akan termotivasi untuk menempuh pendidikan setinggi-tinggi. “Dia harus lebih tinggi dari saya,” kata Herry.

Saat harus belajar di dua kampus terakhir. Tiap Sabtu dan Minggu adalah haris kuliah. Kontan, waktu bersantai dengan keluarga berkurang banyak. Kalau sudah demikian, dia biasanya meminta istri dan anaknya menunggu di suatu tempat. Lantas, mereka bertemu di sana sepulang Herry dari kuliah.

“Harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Untuk keluarga, saya upayakan bisa bersama mereka dan efektif saat berkumpul. Walau hanya jalan-jalan di dalam kota,” terang pembicara aneka seminar tentang konstruksi di sejumlah kota tersebut.

Saat ini dia mencoba mendaftarkan diri di Muri (Museum Rekor-Dunia Indonesia) sebagai calon pencetak rekor. Bukan tak mungkin di Indonesia belum ada PNS yang memiliki enam ijazah dari dua disiplin ilmu berbeda. Dia mengklaim dirinya layak mesuk museum pimpinan Jaya Suprana itu. (*/c2/nda)

Sumber : Jawa Pos, 18 Maret 2012

Artikel Terkait